|
|
|
Sekilas Tentang Mission Trip |
|
|
|
Written by Yayasan Berkat
|
|
Wednesday, 11 March 2009 |
|
Sekilas Tentang Mision Trip 1 – 12 Januari 2009Di Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Pegunungan Bintang terletak dalam deret pegunungan Jayawijaya di sebelah timur berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. Ditempuh kurang lebih 1 jam dengan pesawat dari kota Sentani-Jayapura. Tebagi atas 7 kecamatan dengan ibukata kabupaten adalah Oksibil. Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki kurang lebih 42 desa, masyarakat yang tinggal di sana adalah dari suku Ngalum. Desa-desa di sana merupakan tempat-tempat yang sulit dijangkau karena terletak di dataran tinggi yang berbukit-bukit dan tidak ada alat transportasi untuk mencapai tempat ini kecuali dengan pesawat kecil milik MAF, Yajasi, AMA dan beberapa pesawat dari lembaga misi lainnya. Hubungan komunikasi hampir tidak ada, kecuali di ibukota kabupaten Oksibil. Demikian juga aliran listrik tidak ada, kecuali kantor pemerintah dan beberapa gereja memiliki diesel atau solar panel. Tidak semua desa dapat dicapai oleh pesawat karena ada yang belum memilik landasan pesawat sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki dari desa terdekat yang memiliki landasan terbang, melalui lereng-lereng pegunungan, tidak ada alat transportasi apapun untuk mencapai desa-desa tersebut. Sejauh mata memandang hanya ada deret gunung dan lembah yang hijau. Kehidupan penduduk sangat sederhana, mereka sehari-hari bekerja diladang menanam umbi-umbian atau mencari kayu dihutan untuk kayu bakar. Makanan pokok mereka adalah umbi umbian yang diolah juga dengan sangat sederhana, seperti di rebus atau dibakar. Tanaman kopi organik jenis arabika juga sangat banyak ditempat ini namum belum dioleh untuk dijual, karena keterbatasan pengetahuan masyarakat dan sulitnya transportasi untuk menjual biji kopi sekalipun. Penduduk sudah tinggal menetap, mereka mendirikan rumah-rumah kayu beratap honai atau seng, dengan hanya 1 ruangan, di tengahnya adalah tungku api tempat memasak sekaligus sebagai penghangat ruangan di waktu malam. Untuk keperluan air, mereka memiliki sungai yang airnya cukup jernih dan mengalir. Akan tetapi umumnya belum dialirkan ke rumah-rumah, sehingga penduduk perlu ke sungai yang agak jauh tempatnya.Kualitas sumber daya manusia agak kurang, sarana pendidikan seperti sekolah umumnya hanya ada SD dan beberapa SMP, Ada desa-desa yang belum memiliki sekolah, ada juga yang memiliki sekolah sederhana sampai kelas 3 SD yang diajar oleh alumni MTC. Fasilitas yang dimiliki sekolah-sekolah di sana sangat minim dan jumlah guru sangat terbatas, guru-guru di sana umumnya adalah guru bantu yang tidak lulus sekolah guru. Jumlah masyarakat di desa-desa tersebut bervariasi, dari desa yang saya kunjungi, setiap desa kurang lebih berjumlah 300-500 jiwa. Anak-anak kecil sangat banyak dibanding dengan pemuda-pemudi. Pada tanggal 10 Desember 2008 hingga 12 Januari 2009, Alumni Mission Trainning Centre (MTC) - Sentani yang bernaung dalam Yayasan Berkat, serta Tim Yayasan Berkat dari Jakarta dan juga guru dan staf dari MTC mengadakan misssion trip untuk mengunjungi para alumni yang melayani di daerah Pegunungan Bintang dan mengadakan kebaktian dan penyuluhan tentang keluarga, kesehatan dan tanaman kopi. Di setiap desa yang di kunjungi sudah memeluk agama Kristen karena 42 tahun yang lalu missionaris datang ke desa Kiwi dan mengenalkan tentang Yesus Kristus. Setiap desa juga memiliki gereja yang sangat sederhana, namun ada juga desa yang masih sedang berusaha untuk mendirikan gedung gereja. Masyarakat pada mumnya hafal banyak ayat-ayat Alkitab, namun karena pemahaman bahasa Indonesia dan pengetahuan umum yang kurang sehingga untuk aplikasi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari masih belum memahami. Mereka sangat senang dan menyambut dengan baik ketika rombongan misi datang, mereka antusias dalam mendengar serta sebagaian mencatat dengan tekun setiap firman Tuhan yang disampaikan. Masyarakat baik orang tua hingga anak-anak dapat bertahan berjam-jam untuk mendengarkan firman Tuhan dan bertanya jawab hal-hal yang berkaitan tentang aplikasi dalam kehidupan mereka. Tema keluarga diangkat, karena umumnya mereka telah tahu dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Akan tetapi kurangnya wawasan dan budaya nenek moyang mereka, sehingga kurang memahami arti pernikahan yang kudus menurut Firman Tuhan. Mereka sudah melakukan hubungan sex sebelum menikah bagi mereka itu hal yang wajar, biasanya ketika wanita itu hamil, maka ia akan diakui sebagai istri dan mereka juga ada yang memiliki istri lebih dari satu. Namun dalam tanya jawab dengan kaum muda, mereka mengatakan sekarang ini mereka telah tahu bahwa ada pemberkatan nikah di gereja, dan sebagian para orang tua mereka telah melarang mereka melakukan hubungan sex sebelum resmi menikah. Hal ini kadang dimanfaatkan oleh pendatang. Pembicaraan tentang pernikahan dan hubungan muda mudi hampir tidak pernah dibicarakan di gereja, karena merupakan hal yang tabu. Melalui mission trip ini, dikemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah keluarga Kristen yang benar. Juga pemuda-pemudi diingatkan kembali akan status mereka sebagai orang-orang yang telah diselamatkan melalui Kristus Yesus, sehingga sudah seharusnya menjaga hidup kudus di hadapan Allah. Juga diberikan motivasi untuk membangun desa mereka dengan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Karena untuk melanjutkan ke SMA diperlukan biaya dan juga kemampuan yang baik serta kemauan yang tinggi, karena kadang mereka harus meninggalkan desa mereka untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Pengetahuan kaum wanita tentang hal-hal memasak, kebersihan, melahirkan dan menstruasi sangat rendah. Umumnya wanita melahirkan didalam hutan, dengan perlengkapan alami. Juga wanita yang menstruasi belum mengenal pembalut, mereka akan tinggal dirumah atau khusus selama menstruasi tanpa mandi ataupun keluar dari kamar tersebut, makanan akan diantar oleh keluarga mereka. Ketika ditanya apakah mereka tahu pembalut, dari ketiga desa yang saya kunjungi, mereka belum mengetahui hal ini. Demikian pula dengan kebersihan dan gizi makanan mereka kurang memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Tuhan telah memberikan bagi mereka sumber daya alam yang subur dan kaya. Tetapi diperlukan peranan misi atau sesama kita yang tergerak melihat kebutuhan saudara-saudara seiman kita yaitu untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sehingga meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka seperti dalam bidang pendidikan dan pemanfaatan sumber daya alam. Diharapkan melalui hal tersebut mereka dapat lebih memahami ajaran Kristus dan menerapkannya dalam kehidupan mereka dengan lebih baik sehingga menjadi saksi kepada masyarakat lain. Dari sisi lain dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia mereka juga dapat mengolah sumber daya alam mereka yang subur dan kaya untuk meningkatkan taraf hidup. Daerah yang jauh, hampir terisolasi dan jarang terpublikasi mungkin membuat sedikit orang yang mau berperan aktif untuk membantu mereka. Sebagian dari kita berfikir, mereka sudah bahagia dengan kehidupan mereka, biarkan saja mereka hidup dengan alam mereka apa adanya seperti saat ini. Mungkin ini benar, akan tetapi sampai berapa lama mereka akan dapat bertahan, kita sudah melihat di dalam perkembangan jaman saat ini dimana mobilisasi penduduk dari berbagai penjuru. Maka cepat atau lambat, adalah masalah waktu saja, dimana mereka akan tersentuh oleh kemajuan jaman, pengetahuan serta teknologi. Ketika masa itu berada didepan mata, akan siapkah orang-orang disana untuk dapat bertahan beserta dengan kekayaan alam yang mereka yang saat ini mereka nikmati dengan bebas dan sederhana, atau mereka akan tergeser dan menjadi penonton kesuksesan orang lain didaerah mereka sendiri. Oleh: Sdri. YuliantiGuru di IPEKA International Jakarta dan mahasiswa STT Cipanas program M.Div.
|
|
|